SELAMAT DATANG

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 27 Oktober 2017

Toleransi empat madzhab

ULAMA empat madzhab adalah madzhab adalah para ulamapara figur yang mengedepankan kesatuan pendapat, dan tidak egois dengan pendapatnya. Meski memiliki pandapat sendiri dalam madzhab, namun masing-masing madzhab selalu melihat pendapat madzhab lain, dan melakukan upaya agar untuk menghilangkan perbedaan, yang biasa disebut muru`atul khilaf, dimana masing-masing madzhab bersepakat bahwa keluar dari ranah khilaf merupakan perkara yang mustahab.
Demikian, beberapa contoh, upaya masing-masing madzhab untuk meminimalisir perbedaan dengan madzhab lain di beberapa masalah.
Madzhab Hanafi
Membaca surat Al Fatihah dalam madzhab Hanafi bukanlah bagian dari rukun yang harus dikerjakan, namun ulama madzhab Hanafi memotivasi agar pengikutnya membaca surat Al Fatihah saat shalat jenazah. Tertulis dalam kitab fiqih Al Hanafi ,Maraqi Al Falah,”….dan boleh membaca Al Fatihah dengan tujuan memberikan pujian, demikian hal ini telah dinashkan bagi madzhab kita, dan di Al Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwa ia menshalatkan janazah lalu membaca Al Fatihah dan berkata,’Agar mereka mengetahui bahwa hal itu sunnah.’ Dan hadits itu dishahihkan oleh At Tirmidzi. Dan para imam kita berkata bahwa memperhatikan perkara khilaf mustahab, sedangkan hal itu (membaca Al Fatihah) fardhu menurut Asy Syafi’I Rahimahullah Ta’ala, maka tidak mengapa membacanya dengan tujuan membaca Al Qur`an untuk keluar dari khilaf.” (Maraqi Al Falah, hal. 227)
Dalam madzhab Hanafi tidak diwajibkan wudhu bagi siapa yang mengusung jenazah. Namun Imam Ahmad berpendapat wajib berwudhu bagi siapa yang telah mengusung jenazah, maka dalam hal ini Ath Thahthawi berkata,”Maka disunnahkan wudhu, untuk keluar dari khilaf, juga untuk mengamalkan hadits.” (Hasyiyah ATh Thahthawi, 1/55)
Madzhab Maliki
Bagi madzhab Maliki, membaca basmalah sebelum Al  Fatihah adalah perkara yang mubah, dan shalatnya sah, sedangkan bagi madzhab Asy Syafi’i, tidak sah shalat jika tidak membacanya, karena itu bagian dari Al Fatihah. An Nafrawi pun berkata,”Yang disepakati lebih baik daripada yang tidak disepakati, telah berkata Imam Al Qarrafi (Maliki), dan Ibnu Rusyd (Maliki) dan Al Ghazali bahwa bagian dari kehati-hatian keluar dari khilaf dengan membaca basmalah dalam shalat.” (Al Fawaqih Ad Dawani, hal. 409)
Madzhab Syafi’i
Dalam madzhab Syafi’i tidak diperlukan niat bagi siapa yang memandikan jenazah. Namun, mustahab untuk meniatkannya, dalam rangka keluar dari khilaf, dikarenakan Imam Malik mewajibkan niat bagi yang memandikan jenazah. (lihat, Tuhfah Al Habib, 2/516)
Meski dalam madzhab Asy Syafi’i dinyatakan sah shalat sendiri di belakang shaf, namun disunnahkan menarik seseorang dari shaf depan untuk shalat bersamanya di belakang. Hal itu dikarenakan Imam Ahmad menilai bahwa shalat sendirian di belakang shaf tidak sah. (Hasyiyah Al Bujairimi, 1/322)
Dalam madzhab Asy Syafi’i i’tikaf sah dilakukan di masjid meski bukan masjid jami’, namun Imam Asy Syriazi berkata,”Dan lebih utama beri’tikaf di masjid jami’, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah beri’tikaf kecuali di masjid jami’, juga karena di masjid jami’ lebih banyak jama’ah shalatnya, juga dalam rangka keluar dari khilaf, dimana Az Zuhri menyatakan tidak boleh i’tikaf kecuali di masjid jami’.” (Al Majmu’, 6/504)
Meskipun dalam madzab Asy Syafi’i sah melakukan i’tikaf kurang dari satu hari, namun Imam Asy Syafi’i berkata,”Lebih utama, ia tidak kurang dari satu hari, karena tidak pernah dinukil dari Rasulullah Shallallahu Alihi Wasallam dan para sahabatnya bahwasannya mereka beri’tikaf kurang dari satu hari dan dalam rangka keluar dari khilaf Abu Hanifah dan lainnya yang mensyarakan i’tikaf satu hari atau lebih.” (Al Majmu’, 6/513)
Madzhab Hanbali
Takbir dalam shalat jenazah diriwayatkan dari Imam Ahmad beberapa riwayat, yang menunjukkan jumlah takbir lebih dari empat takbir, namun Ibnu Qudamah mengatakan,”Lebih utama tidak lebih dari empat, karena hal itu keluar dari khilaf, dan mayoritas ahlul ilmi berpendapat bahwa takbir empat kali.” Diantara ulama yang berpendapat takbir empat kali adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i (Asy Syarh Al Kabir, 2/352).
Apa yang disebutkan hanya merupakan beberapa contoh dari upaya keluar dari khilaf, dan masih ada ratusan masalah lainnya, yang tertulis dalam kitab-kitab fiqih empat madzhab. Tentu hal ini menjadi bukti bahwa madzhab empat, meski berbeda pendapat namun tetap toleransi terhadap madzhab lain. Jika demikian, klaim bahwa adanya madzhab merupakan sumber perpecahan juga tidak benar. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

Minggu, 03 Juli 2016

KHUTBAH 'IDIL FITRI 2016



Khutbah shalat ‘idul fitri
أَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ
أَللهُ اَكبَرْ 3x أَللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ, أَللهُ اَكْبرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ ,أَللهُ اَكْبَرْكُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ, وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْ,وَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ الْمُعْتَرْ.          
       اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ الله اَكْبَرْ وَ للهِ الْحَمْدُ . اَلْحَمْدُ لِلهِ الّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلْفِطْر بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ . اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرْ, وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, أَلشَّافِعُ فِيْ الْمَحْشَرْ, أَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ الّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ.  اَمَّا بَعْدُ:  فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .
Jama'ah sholat ‘id rahimakumullah
Alhamdulillah, rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh.
Dan tidak lupa kita ucapkan shalawat dan salam kepada rasulullah Muhammad SAW , kepada keluarga beliau, para sahabat serta para pengikutnya yang setia hingga saat ini.
Jama'ah sholat ‘id rahimakumullah.
Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa dan atas karunia-Nya sekarang kita dapat berhari raya bersama, maka sudah sepantasnya pada hari yang bahagia ini kita bergembira, merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan ampunan-Nya sebagaimana yang tersurat dalam sebuah hadis Qudsi:
اِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا اِلَىَ عِيْدِكُمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَىَ : يَا مَلاَئِكَتِيْ كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ اُجْرَهُ اَنِّى قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ.  فَيُنَادِى مُنَادٌ: يَا اُمَّةَ مُحَمَّدٍ اِرْجِعُوْااِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِيْ صُمْتُمْ لِيْ وَاَفْطَرْتُمْ لِىْ فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ.
Artinya: Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi : “Apabila mereka berpuasa di bulan Ramadhan kemudian keluar untuk merayakan hari raya (untuk melaksanakan shalat ‘id) maka Allah pun berkata: 'Wahai Malaikatku, setiap orang yang mengerjakan amal kebajian akan meminta balasannya sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka'. kemudian Allah berseru: 'Wahai ummat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian. Seluruh keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan'. Kemudian Allah pun berkata: 'Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untukku dan berbuka untukku. Maka bangunlah sebagai orang yang telah mendapatkan ampunan.”
Jama'ah sholat ‘id rahimakumullah.
Seiring dengan berlalunya Bulan suci Ramadhan. Tentunya banyak pelajaran yang dapat kita petik hikmahnya untuk menjadi bekal kita dalam mengarungi kehidupan 11 bulan yang akan datang. Jika bisa diibaratkan, Ramadhan adalah sebuah madrasah yang berisi pendidikan dimana selama 24 jam x 30 hari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari kita dilatih untuk disiplin, dilatih untuk bersabar. sejak malam hari kita shalat taraweh, bangun disepertiga malam untuk sahur dan dilanjutkan dengan perpuasa di siang hari serta berbagai aktifitas kebaikan lain yang kita lakukan., semula sesuatu yang halal menjadi haram. Makan dan minum yang semula halal bagi manusia di sepanjang hari, maka di bulan Ramadhan menjadi haram dan kita sama2 mampu untuk melewatinya, kita mampu untuk tidak makan di siang hari selama sebulan walaupun itu harta milik kita sendiri, kenapa ..? karena perintah Allah demikian.
Namun apakah selepas ramadhan kita semakin dekat dengan Islam ataukah justru semakin jauh, apakah kita semakin dekat dengan Allah atau sebaliknya..? selama sebulan ramadhan kita udah biasa berinfaq, udah baikan dengan tetangga, udah rajin shalat berjama’ah, apakah selepas ramadhan kita akan meninggalkan itu semua..? hanya diri kita sendiri nantinya yang akan membuktikan.
Ÿwur (#qçRqä3s? ÓÉL©9$%x. ôMŸÒs)tR $ygs9÷xî .`ÏB Ï÷èt/ >o§qè% $ZW»x6Rr& .(Annahl : 92).......
Allah mengingatkan kepada kita “dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali”.
Jama'ah sholat ‘id rahimakumullah.
Inti dari ayat ini adalah bahwa Allah menyuruh kita untuk tetap istiqomah dalam mengamalkan kebaikan-kebaikan. Hubungannya dg ramadhan; kebaikan-kebaikan yang sudah menjadi kebiasaan kita di bulan ramadha jangan samapi kita tinggalkan bersama perginya bulan ramadha. Artinya walaupun ramadhan udah pergi kita tetap rajain shalat, rajin berinfaq, rukun dengan tetangga dll.
 Oleh karena itu, ada tiga pesan dan kesan Ramadhan yang sudah semestinya kita pegang teguh bersama susudah Ramadhan yang mulia ini. Pesan pertama Ramadhan adalah Pesan moral, yaitu Tahdzibun Nafsi Artinya, kita harus selalu waspada terhadap musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai. Rasulullah SAW bersabda: Jihad yang paling besar adalah jihad melawan syahwat/ hawa nafsu. Hujjatul Islam, Abû Hâmid al-Ghazâlî berkata: bahwa pada diri manusia terdapat empat sifat, tiga sifat berpotensi untuk mencelakakan manusia, satu sifat berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan.
Sifat yang Pertama, adalah sifat kebinatangan (بَهِمِيَّهْ); tanda-tandanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa rasa malu. Kedua, sifat buas (سَبُعِيَّهْ) ; tanda-tandanya banyaknya kezhaliman dan sedikit keadilan (selalu berbuat curang). Yang kuat selalu menang sedangkan yang lemah selalu kalah meskipun benar. Ketiga, sifat syaithaniyah; tanda-tandanya mempertahankan hawa nafsu yang menjatuhkan martabat manusia. Jika ketiga tiga sifat ini lebih dominan atau lebih mewarnai diri seseorang maka dia lebih parah daripada binatang, sebagai mana firman Allah : ( أُلئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلًّ ) mereka itu seperti binatang bahkan lebih sesat.”
Sedangkan satu-satunya sifat yang membahagiakan adalah sifat rububiyah (رُبُوْبِيَّهْ); ditandai dengan keimanan, ketakwaan dan kesabaran sebagaimana yang telah kita bina bersama-sama sepanjang bulan Ramadhan.
Jama'ah sholat ‘id rahimakumullah.
Orang yang dapat mengoptimalkan dengan baik sifat rububiyah di dalam jiwanya niscaya jalan hidupnya disinari oleh cahaya Al-Qur'an, prilakunya dihiasi budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah). Selanjutnya, ia akan menjadi manusia yang bertaqwa, manusia dermawan, yang mampu menahan diri dari hawa nafsu, memberi ma`af dan berbuat baik pada sesama manusia.  sebagaimana firman Allah:
 tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムÎû Ïä!#§Žœ£9$# Ïä!#§ŽœØ9$#ur tûüÏJÏà»x6ø9$#ur xáøtóø9$# tûüÏù$yèø9$#ur Ç`tã Ĩ$¨Y9$# 3 ...
 (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang lain. Itulah pesan ramadhan yang pertama.
Jama'ah sholat ‘id rahimakumullah.
Pesan kedua adalah pesan social, Pesan sosial Ramadhan ini terlihat dengan indah pada detik-detik akhir Ramadhan dimana ketika umat muslim mengeluarkan zakat fithrah kepada أَصْنَافُ الثَّمَانِيَةِ (delapan kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat), terutama kaum fakir miskin.
Semangat zakat fitrah ini melahirkan kesadaran untuk tolong menolong (تَعَوُّوْنْ) antara orang-orang kaya dengan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dengan orang-orang yang hidup kesehariannya paspasan bahkan serba kekurangan. Dalam kesempatan ini orang yang menerima zakat akan merasa terbantu beban hidupnya dan yang memberi zakat mendapatkan jaminan dari Allah SWT; sebagaimana yang terkandung dalam hadis Qurthubi, Nabi SAW bersabda yang Artinya: "Aku semalam bermimpi melihat kejadian yang menakjubkan. Aku melihat sebagian dari ummatku sedang melindungi wajahnya dari sengatan nyala api neraka. Kemudian datanglah shadaqah-nya menjadi pelindung dirinya dari api neraka."
Jama'ah sholat ‘id rahimakumullah.
Pesan ketiga adalah pesan jihad, Jihad yang dimaksud di sini, bukan hanya berperang di jalan Allah dengan angkat senjata akan tetapi jihad yang dimaksud disini adalah:
بَذْلُ مَاعِنْدَهُ وَمَا فِى وُسْعِهِ لِنَيْلِ مَا عِنْدَ رَبِّهِ مِنْ جَزِيْلِ ثَوَابِ وَالنَّجَاةِ مِنْ اَلِيْمِ عِقَابِه
"mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa kita untuk mencapai keridhaan dari Allah”. Terutama jihad melawan diri kita sendiri yang disebut sebagai Jihadul Akbar, jihad yang paling besar. Dengan demikian, jihad akan terus hidup di dalam jiwa ummat Islam baik dalam kondisi peperangan maupun dalam kondisi damai yaitu jihad melawan hawa nafsu.
Jama'ah sholat ‘id rahimakumullah.
Itulah tiga pesan hikmah ramadhan kepada kita untuk kita laksanakan selama 11 bulan ke depan.
Untk menjalankan semua ini tentunya tidak semudah yang kita dengar karena di balik dahsyatnya gejolak nafsu dalam diri kita ternyata ada makhluk Allah yang senantiasa mengincar kita, senantiasa memusuhi kita dan senantiasa berusaha menggerakkan nafsu kita untuk menjerumuskan kita ke jalan yang dimurkai oleh Allah, siapakah makhluk tersebut..? tidak lain adalah syetan. Inilah makhluk Allah yang telah berhasil mengeluarkan nabi Adam dari surga,.
Setelah Allah menciptakan nabi adam dan menempatkannya di surga, lalu Allah menyuruh para penduduk surga sujud kepada adam, namun dengan kesombongannya iblis menolak untuk sujud kepada adam dan iblis berkata kepada Allah “saya lebih baik daripada adam, saya diciptakan dari api sedangkan adam diciptakan dari tanah liat, jadi tidak pantas kalo saya sujud kepada adam”.
Sehingga Allah marah dan mengusir syetan dari  surga.
Jama'ah sholat ‘id rahimakumullah.
Syetan/Iblis tidak berhenti sampai di situ tapi ia minta idzin kepada Allah untuk selalu mencari teman, selalu menggoda anak cucu adam agar ikut masuk ke dalam kesesatan.  
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba_Mu yang ikhlash dalam beramal.
Oleh karena itu Jama'ah sholat ‘id rahimakumullah
Marilah kita melatih diri kita untuk senantiasa ikhlash dalam menjalankan segala aktivitas sehingga kita bisa terhindar dari godaan syetan. Dan marilah kita berdoa semoga Allah menerima segala amal ibadah kita selama ramadhan serta memberikan kepada kita kekuatan untuk senantiasa istiqomah dijalannya sehingga kita menjadi hamba Allah yang husnul khotimah... aaaamiiinnnn...
  Jama'ah sholat ‘id rahimakumullah
Selanjutnya, marilah kita simak hadits Rasulullah SAW yang berkaitan dengan puasa :
عَنْ أَبِيْ أَيُّوْبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ, (أَخرجه احمد وغيره)
“siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal, maka dia seperti berpuasa sebulan penuh” (HR. Muslim).
Hadits ini mengabarkan kepada kita bahwa masih ada kesempatan bagi kita untuk lebih banyak lagi mengumpulkan pahala selepas ramadhan yaitu “Salah satunya” dengan berpuasa enam hari di bulan syawal yang mana nilainya di sisi Allah sama dengan berpuasa setahun penuh.
Oleh karena itu marilah tanamkan azam dalam diri kita masing-masing untuk melaksanakannya dan semoga Allah memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kita semua. Aaamiin ya robbal ‘aalaiinn.

إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ, يَآاَيُّهَاالَّذِيِنَ آمَنُوْاصَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا, أَللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ .اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالرِّضَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى. رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Jama’ah Shalat ‘id yang dirahmati Allah SWT. Demikianlah khutbah singkat pada kesempatan pagi ini. Terimakasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas segala kekurangan.

وَاللهُ الْمُوَافِقُ إِلَى أَقْوَامِ الطَّرِيْقِ, ثُمَّ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرحمةالله وبركاته.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites